Kembali ke titik "0"

Seperti biasanya, dalam hidup ada kisah yang "berulang", namun aktor dan masa yang berbeda. Entah hal itu terjadi pada orang lain, teman dekat, sahabat dekat, bahkan kita sekalipun. Kisah yang datang pada kehidupan seseorang memiliki banyak makna yang mampu membuka tabir kepada siapapun yang menyimak, menyelam dan meretas kisah tersebut menjadi kepingan puzzle dan menemukan sesuatu yang mampu dijadikan bekal untuk melangkah menembus waktu. Tidak banyak dari mereka yang masih menapakkan kakinya untuk terus melangkah mampu meretas setiap kisah yang ada dihadapannya, sebagian dari mereka justru menunduk dan mengabaikan kisah tersebut, sebagian lagi sekedar menyapa dan kemudian beranjak, namun sebagian diantara mereka terduduk dan mencoba membuka pintu kisah kehidupan tersebut satu persatu, menemukan sisi dari dirinya yang hilang, menemukan kunci untuk membuka pintu kehidupan yang lain, bahkan ada yang hanya sekedar melihat noda hitam yang hadir di balik kisah tersebut kemudian melangkah menembus zaman.

Hidup tidak sekedar berdiri dan berpijak kepada apa yang kita miliki, hidup meniscayakan engkau membutuhkan teman, sahabat, bahkan saudara yang terkadang harus bersama - sama berpijak, bersama - sama dalam perenungan, melangkah, bahkan sedih dan tertawa sekalipun. Namun itu tak selamanya menjadi pelangi yang indah dikala matahari dan tetesan air melengkapi hari, adakalanya persahabatan, persaudaraan itu mesti kembali ke titik "0" untuk meretas setiap tembok dan duri yang kadarnya bahkan lebih besar dari ikatan persahabatan dan persaudaraan. Titik "0" tidak menghilangkan jumlah persimpangan yang dilalui sahabat bersamamu dan kisah yang dilalui, jumlah itu akan terus sama hingga kita mampu kembali dari titik "0" dan berhasil mengumpulkan serpihan puzzel yang tertinggal, terlupakan selama perjalanan persahabatan itu dimulai, mencari hal yang berserakan yang terabaikan dikala kita melintas pada kisah lalu tersebut. 

Terkadang hal terberat dalam kehidupan adalah ketika kita belajar untuk menerima realitas yang jauh dari apa yang diharapkan, bertarung antara realitas dengan apa yang dipahami sebagai idealisme dalam hidup, antara masa lalu dan titian masa depan, antara luka dan lapang. Namun demikianlah menurutku kisah kehidupan itu menari. Kita butuh kembali ke titik "0" dan mengumpulkan serpihan kehidupan dan bertemu kembali di persimpangan kehidupan dimana kita sama sama berhenti untuk meruntuhkan tembok besar kisah yang membuat segalanya menangis dan merintih, waktu mampu menjadi air pembasuh perih, dan perjumpaan kelak adalah janji bahwa persahabatan dan persaudaraan itu tidak akan padam, kata hanya perlu kembali ke titik "0" dan akan berjumpa kembali.

0 Comments